Minggu, 29 Mei 2011

Jurnal Tiga Tahun

Masih teringat dengan jelas ketika di pertengahan 2008, kaki ini untuk pertama kalinya melangkah di kampus Politeknik Negeri Jakarta. Setelah sebelumnya melewati prosesi yang biasa dilewati oleh setiap mahasiswa baru, mulai dari pendaftaran, KPSPP hingga sosialisasi jurusan dan mungkin juga proses pencarian rumah kos bagi anak yang tinggalnya cukup jauh dari daerah kampus seperti aku.

Ruang kelas yang berkapasitas kurang lebih 24 orang, sebuah white-board, dan sepasang meja-kursi untuk dosen yang mengajar. Di sinilah tempat aku dan teman-teman AK 1C Pagi yang lainnya akan menghabiskan waktu kami untuk perkuliahan. Akuntansi adalah salah satu jurusan & satu-satunya jurusan yang aku pilih sewaktu mengisi formulir pendaftaran. Suatu pilihan yang cukup berani menurutku, bagi seorang siswa berlatar IPA(Ilmu Pengetahuan Alam).

Tidak ada masalah yang begitu berarti di masa adaptasi. Sistem kegiatan perkuliahan yang hampir sama dengan kegiatan belajar di SMA membuat lebih mudah untuk dijalani. Tantangan yang cukup berat adalah bagi mahasiswa yang dahulunya berlatar IPA. Akan tetapi, hal itu tidak dapat dijadikan pemakluman untuk bersantai tetapi sebaliknya.

Mahasiswa di kelasku yang semula berjumlah 24, berkurang dua orang. Satu sudah tidak masuk sejak awal karena diterima di universitas yang lain dan satu lagi Dwi Winarno, seorang teman yang memilih meninggalkan PNJ karena diterima di STAN. Tersisalah Aris Setiadi yang kemudian dipercaya untuk menjadi ketua kelas, Ardi, Asti, Yanti, Ipul, Glen, Siti, Farah, Rias, Aini, Hanung, Alfian, Desy, Desti, Nurul, Yekti, Mega, Dita, Fiona, Ramadhini, Stella, dan aku.

Teman sekelas yang tidak berganti selama tiga tahun, membuat kepribadian diri semakin dipahami satu sama lain. Berbagai kejadian yang dilewati bersama telah membuat tali persahabatan semakin erat. Berbagai karakter ini seperti elemen penyusun sebuah bangunan, berbeda tapi saling melengkapi.

Aris dengan tanggung jawabnya sebagai ketua kelas dan semangatnya untuk mahir berbahasa Inggris, Ardi dengan gaya yang khas hingga seorang dosen menjulukinya ‘Changcuters’, Siti dengan berbagai bakat seni yang dimilikinya, Farah yang bisa menjerit ketakutan saat didekati kucing, Yanti dengan logat Medan-Palembang yang bisa membuat orang sulit menebak jika sedang bermain ‘plesetan kata’, Asti yang setia menemani Yanti di saat suka maupun duka, Mega & Alfian yang selalu menjadi obat stress (bisa menambah atau mengurangi tingkat kestresan), Dita dengan suara Gita Gutawa (tapi sepertinya lebih bangga dibilang mirip Elya Kadam), Hanung dengan tubuh tingginya sehingga selalu diandalkan untuk menyalakan LCD, Rias dengan celetukan-celetukannya, Ai dengan wajah dan suara imutnya, Desti yang popular dengan ‘eng ing eng’ atau ‘e toet’, Desy atau Iyus yang terkadang candanya pun bersifat ilmiah, Glen yang entah kenapa meskipun tempat kosnya terbilang dekat dari kampus tapi masih kesulitan untuk menginjakkan kaki di kelas tepat waktu, Ipul dengan gerobak pulsanya dan keahliannya di bidang IT, Nurul dengan sundanese yang ke-korea-korea-an, Fiona dengan kedewasaannya, Ramadhini atau Hamet ‘Si Imut bersemangat Besar’, Stella dan Yekti yang sepertinya darah akuntansi mengalir deras di dalam tubuh mereka, dan aku yang…(silakan diisi sendiri ^^).

Berbagai hal yang dihadapi mulai dari tugas makalah, presentasi, tugas harian, dosen yang bermasalah, UTS, UAS, observasi perusahaan, dan Job Training telah dilalui bersama hingga tibalah di final yaitu TA dan siding pengujian. Semua itu terkadang membuat semangat ini naik dan turun, tetapi saat semangat ini mulai menurun maka yang dibutuhkan hanyalah melihat senyum di wajah mereka. Adakalanya kejenuhan yang melanda sudah tidak mampu disembunyikan lagi, maka mulailah kesenangan yang dilalui bersama. Bermain plesetan kata, nonton film bersama dengan menggunakan inventaris kampus dan yang paling fenomenal adalah ‘Crazy Little Thing Called Love’, makan bersama berdasarkan paham ‘One for All, All for One’ dan yang paling spektakuler adalah ‘fenomena kripik Mak Icih Level 10’, pemberian hadiah bagi yang berulang tahun, narsis bersama melalui kamera di laptop, bolos bersama, dan banyak lainnya.

Ketika ada kegembiraan maka ada pula kesedihan. Saat dimana air mata sudah tidak mampu terbendung lagi atau saat diri sudah merasa cukup lelah untuk menampung masalah sendiri. Sesi curhat untuk saling menguatkan pun sering menjadi solusi yang cukup ampuh untuk mengatasi kondisi ini.

Kini, tinggal menghitung hari maka gelar AK 6C Pagi akan segera dilepaskan. Begitu banyak kenangan yang telah tercatat di setiap lembar jurnal kelas ini. Waktu tiga tahun bersama mereka telah melukiskan begitu banyak hal dalam hidupku. Prestasi, persahabatan, cinta, semangat, pengorbanan, kebersamaan, dan banyak lagi yang kupelajari dari mereka. Semua ini tidak akan tergantikan oleh apa pun. Salah satu rasa syukurku yang luar biasa pada-Nya karena telah mengizinkanku bertemu dan bersahabat dengan mereka.

Jakarta, 28 Mei 2011

01:00 WIB

NB:

Semangat TA, Sidang, coming soon Wisuda ^-^

Tetap jaga komunikasi ya meskipun nanti sudah jarang ketemu…



Every time, everyday, everything…

Even though it doesn’t become words

Even if we’re apart

You are my special place

(Jikan Yo Tomare, by Azu feat Seamo)




Sobat…

Senyum, sedih, sukar, haru telah kita lalui bersama

Arti persahabatan dan kehidupan

Coba kuselami dari setiap pertemuan kita


Cinta yang sederhana ini

Telah menghasilkan persahabatan sederhana nan bersahaja


Mungkin kehadiran diri ini tidak berarti bagimu

Tapi sobat…

Dapat kupastikan satu hal

Kehadiranmu begitu berarti bagiku

(Jakarta, 29 Mei 2011)

Rabu, 04 Mei 2011

Copet Amatir

Di suatu siang yang cukup terik di daerah Jakarta Timur, aku berada di dalam sebuah mobil angkutan umum yang biasa disebut dengan KWK. Aku baru pulang dari menghadiri acara pernikahan temanku. Belum lama mobil ini beranjak keluar dari terminal, ada seorang bapak yang berseragam biru (seperti seragam sebuah buruh pabrik) naik dan duduk di pojok belakang. Kemudian, kira-kira lima meter dari bapak yang pertama, naik dua orang pria yang kali ini usianya sepertinya lebih muda dibanding bapak yang pertama naik.

Pria yang pertama, berambut cepak hampir botak dan pria yang kedua berbadan agak besar dan membawa sesuatu, sepertinya selembar karton yang berbentuk persegi kemudian dibungkus plastik. Untuk memudahkan, sebut saja bapak yang seperti buruh pabrik sebagai bapak tua, pria yang berambut cepak sebagai pria botak, dan pria yang membawa karton sebagai pria karton. Posisi tempatku duduk adalah tepat di samping dekat pintu. Pria botak duduk di sebrangku, pria karton duduk di sampingku, dan bapak tua duduk di pojok belakang.

Tiba-tiba…

“Mba, uhuk..uhuk.., misi ya.. saya gak kuat bau asap rokok. Uuek..uuuek…”, kata pria botak dengan wajah cukup panik sambil menutup mulutnya seperti ingin muntah.

Suasana di dalam mobil semakin panik karena pria botak selalu menggeser-geser kakiku, seolah ingin muntah di dekat kakiku. Aneh.

Saat kondisi sudah semakin panik, aku merasakan tas kecil yang kuletakkan di pangkuanku mulai bergeser ke arah pria karton. Aku teringat akan cerita ibu bahwa beberapa hari yang lalu seorang sepupuku dicopet di dalam angkutan umum dengan modus rokok yang mengenai baju dan membuat seluruh penumpang panik dan saat itulah si copet beraksi.

Jantungku berdegup hebat. “Jangan-jangan ini…”

Entah aku mendapat keberanian dari mana. Setelah menyadari, aku tidak memilih turun saat itu juga bahkan aku seperti menanti aksi mereka selanjutnya. Dengan degup jantung yang semakin memburu, aku perlahan menarik tas kecil di pangkuanku untuk membenarkan posisinya dan kemudian, “sreeet…”

Tanganku bergesekkan dengan tangan pria karton di sampingku. Ternyata benar, mereka copet.

Aku mulai mengatur napasku yang cukup tersengal. Dengan berani, aku menatap ke arah pria karton yang duduk di sampingku. Aku menatapnya dengan tajam dari ujung rambut hingga ujung kakinya dan dia terlihat seperti salah tingkah. Aku mulai menyadari bahwa karton yang dia bawa itu mungkin hanya untuk menutupi aksi tangannnya untuk mencari-cari barang di dalam tas orang. Kemudian aku melakukan hal yang sama ke arah pria botak dan dia juga terlihat salah tingkah hingga seakan dia lupa bahwa tadi ingin muntah.

Saat menatap mereka berdua, yang ada di benakku adalah kekesalan. Saat itu aku sempat berpikir seandainya aku mengenakan sepatu skets, pasti aku akan dengan senang hati menginjak kaki mereka sekuat tenaga dan kalau pun mereka melawan mungkin aku masih ingat sedikit ilmu karate pernah kudapat sewaktu SMA. Akan tetapi, saat itu keadannya aku sedang mengenakan pakaian dan sandal yang sangat feminin jadi tidak memungkinkan. Oleh karena itu, aku hanya bisa melampiaskan kekesalanku dengan menatap tajam ke arah mereka dan mencoba memperlihatkan wajah tidak ramahku.

Tidak lama kemudian, pria botak dan pria karton turun di suatu tempat, setelah sebelumnya pria botak memberi kode lewat mata kepada pria karton. Setelah itu, sekitar lima meter kemudian, bapak tua turun. Saat ku amati, ketiganya berjalan mendekat satu sama lain. Ternyata bapak tua juga komplotan mereka. Hal itu membuatku mendengus kesal dan kemudian beristighfar.

“Ya Allah.. Muka bapak itu sama sekali tidak mencerminkan pencopet. Aku benar-benar tertipu. Padahal sudah cukup tua, kenapa tidak insaf?”, keluhku dalam hati.

Misi gagal. Aku dapat mengambil kesimpulan bahwa sepertinya para pencopet itu masih amatir, khususnya pria karton yang bertugas mengambil barang dari tasku. Seharusnya dia bisa bergerak lebih cepat dan tidak salah tingkah saat aku menatapnya, karena itu membuatnya semakin terlihat bersalah.

-Based on True Story-

Selasa, 03 Mei 2011

Jembatan Bergaya

Beberapa minggu sebelumnya, di depan rumahku sedang dibangun sebuah jembatan. Jembatan ini dibuat untuk memudahkan warga melintasi sebuah kali yang jaraknya tidak jauh dari pagar rumahku. Jembatan yang dibuat berdasarkan kerja gotong royong, sebuah sistem kerja yang hampir hilang di zaman sekarang, ini akhirnya rampung dalam waktu kurang lebih satu bulan. Ukuran luas jembatan ini kira-kira bisa dilewati oleh sebuah mobil truk ukuran sedang.

Selama satu bulan itu pula, ayah dan ibuku ikut membantu sebisa mereka. Ibuku, sebagaimana ibu-ibu yang lainnya, ikut membantu dalam menyuplai konsumsi agar para bapak tidak kehabisan tenaga untuk bekerja.

Beberapa bulan berlalu. Alhamdulillah jembatan itu berfungsi sebagaimana mestinya, bahkan pagar di pinggir-pinggir jembatan itu sudah dihiasi dengan cat berwarna kuning cerah.

Berawal dari percakapan singkat antara aku dan ibuku di suatu sore.
"Ma, itu orang-orang yang naik motor kenapa suka berhenti di pinggir jembatan ya?"

"Gak tahu, mungkin ban motornya kempes kali.", jawab ibuku acuh.

Saat itu aku menerima jawaban ibuku tanpa perlawanan. Sebenarnya yang menarik perhatianku adalah jumlah mereka yang berhenti, lebih dari dua motor dan itu beberapa kali. Seolah ada yang membuat mereka harus berhenti di jembatan itu.

Di suatu malam, ada pasar malam sederhana di depan rumahku. Pasar malam ini memang biasa keliling dari kampung ke kampung dan malam itu mungkin jadwal mereka untuk mengadakan di daerah rumahku. Suasana malam itu cukup ramai dan kembali jembatan itu menarik perhatianku. Sekali lagi kutanyakan pada ibuku.

"Ma, coba deh mama lihat, orang-orang itu kenapa sih mereka berhenti di pinggir jembatan gitu? Kayaknya motornya gak kenapa-kenapa deh?"

"Oh itu, kayaknya mereka lagi foto-foto deh.."

"Hah? Foto? Di jembatan itu? Masa sih Ma?"

"Iya. Katanya sih emang orang-orang yang lewat kadang suka foto-foto di jembatan itu. Kenapa emang? Kamu mau mama foto di sana?"

"Ampun deh... Kalo foto di Jembatan Suramadu atau Jembatan Ampera sih aku mau deh. Tapi ini jembatan depan rumah, gak seru banget."

Tawaku dan mama sama-sama pecah saat percakapan itu.

Mungkin bagi sebagian orang, sesuatu yang dianggap remeh bisa saja berarti lebih bagi orang lain. Dari jembatan ini aku dapat mengambil satu pelajaran penting. Bahwa untuk bergaya di foto, tidak perlu jauh-jauh dan bayar mahal ke studio foto karena di jembatan pun bisa ^^