Beberapa minggu sebelumnya, di depan rumahku sedang dibangun sebuah jembatan. Jembatan ini dibuat untuk memudahkan warga melintasi sebuah kali yang jaraknya tidak jauh dari pagar rumahku. Jembatan yang dibuat berdasarkan kerja gotong royong, sebuah sistem kerja yang hampir hilang di zaman sekarang, ini akhirnya rampung dalam waktu kurang lebih satu bulan. Ukuran luas jembatan ini kira-kira bisa dilewati oleh sebuah mobil truk ukuran sedang.
Selama satu bulan itu pula, ayah dan ibuku ikut membantu sebisa mereka. Ibuku, sebagaimana ibu-ibu yang lainnya, ikut membantu dalam menyuplai konsumsi agar para bapak tidak kehabisan tenaga untuk bekerja.
Beberapa bulan berlalu. Alhamdulillah jembatan itu berfungsi sebagaimana mestinya, bahkan pagar di pinggir-pinggir jembatan itu sudah dihiasi dengan cat berwarna kuning cerah.
Berawal dari percakapan singkat antara aku dan ibuku di suatu sore.
"Ma, itu orang-orang yang naik motor kenapa suka berhenti di pinggir jembatan ya?"
"Gak tahu, mungkin ban motornya kempes kali.", jawab ibuku acuh.
Saat itu aku menerima jawaban ibuku tanpa perlawanan. Sebenarnya yang menarik perhatianku adalah jumlah mereka yang berhenti, lebih dari dua motor dan itu beberapa kali. Seolah ada yang membuat mereka harus berhenti di jembatan itu.
Di suatu malam, ada pasar malam sederhana di depan rumahku. Pasar malam ini memang biasa keliling dari kampung ke kampung dan malam itu mungkin jadwal mereka untuk mengadakan di daerah rumahku. Suasana malam itu cukup ramai dan kembali jembatan itu menarik perhatianku. Sekali lagi kutanyakan pada ibuku.
"Ma, coba deh mama lihat, orang-orang itu kenapa sih mereka berhenti di pinggir jembatan gitu? Kayaknya motornya gak kenapa-kenapa deh?"
"Oh itu, kayaknya mereka lagi foto-foto deh.."
"Hah? Foto? Di jembatan itu? Masa sih Ma?"
"Iya. Katanya sih emang orang-orang yang lewat kadang suka foto-foto di jembatan itu. Kenapa emang? Kamu mau mama foto di sana?"
"Ampun deh... Kalo foto di Jembatan Suramadu atau Jembatan Ampera sih aku mau deh. Tapi ini jembatan depan rumah, gak seru banget."
Tawaku dan mama sama-sama pecah saat percakapan itu.
Mungkin bagi sebagian orang, sesuatu yang dianggap remeh bisa saja berarti lebih bagi orang lain. Dari jembatan ini aku dapat mengambil satu pelajaran penting. Bahwa untuk bergaya di foto, tidak perlu jauh-jauh dan bayar mahal ke studio foto karena di jembatan pun bisa ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar