Masih lekat dalam ingatanku ketika tangan mungil itu mencoba menarik lenganku sekuat tenaga. Sambil menunjuk sebuah buku tulis usang yang dibawanya, gadis kecil itu berkata “Kak, ajarin aku nulis ini dong…(menunjuk ke bukunya)”. Ita adalah nama gadis kecil itu, yang belakangan kutahu bahwa umurnya adalah 6 tahun. Ku bertemu dia di sebuah perkampungan kumuh di Jakarta. Dua bulan lalu adalah awal pertemuanku dengannya. Saat itu kampusku mengadakan sebuah acara bakti sosial yang rutin dilakukan setiap dua kali dalam sebulan. Aku adalah salah satu sukarelawan yang ikut serta dalam acara tersebut. Sebenarnya aku tidak tahu persis apa yang harus kulakukan di acara ini karena ini kali pertama aku ikut serta. Yang jelas, ku hanya memenuhi ajakan temanku, Lila, yang sudah sering menjadi sukarelawan di acara ini. Setelah Lila mengajakku sambil setengah memohon dan berkata bahwa jumlah sukarelawannya masih sangat kurang, kuputuskan untuk memenuhi ajakannya.
Siang hari itu, aku dan 5 orang sukarelawan lainnya sudah tiba di sebuah perkampungan kumuh. Sejauh mataku memandang, yang terlihat hanyalah tumpukan sampah dan rumah-rumah yang menurutku kurang layak untuk dijadikan tempat tinggal. Selama perjalanan di kampung tersebut, hanya aku yang diam sambil terus melihat-lihat sekelilingku, sedangkan sukarelawan yang lain selalu bertegur sapa dengan masyarakat sekitar. Akhirnya langkah kami berhenti di sebuah rumah kosong yang berukuran sangat kecil. Di dalamnya sudah banyak anak kecil yang mungkin sejak tadi sudah menunggu kedatangan kami. Tanpa ragu, anak-anak itu langsung menarik tangan kami untuk mengajak masuk ke dalam rumah. Aku cukup heran melihat ekspresi antusias mereka. “La, mereka semangat banget ya..Btw, emang kita mo ngapain ama mereka?”, tanyaku penasaran. Sambil tersenyum, Lila menjawab, “kita mau ngajarin mereka baca, tulis, & berhitung.”Spontan aku langsung menjawab, “What? Ngajar? Kok gak bilang-bilang sih? Ku kan belum prepare nih..”. Belum selesai ku bicara, Lila sudah asik mengajar seorang anak & seolah tidak mendengar protesku. Ku hanya bisa duduk terdiam sambil memperhatikan relawan lain yang sudah asik mengajar anak-anak itu dan tenggelam dalam kebingunganku.
Tak lama kemudian, ada sesosok tubuh mungil di hadapanku. Tangan kanannya menggenggam sebuah buku tulis dan pensil, tangan kirinya menarik lenganku sambil berkata, “Kak, ajarin aku nulis ini dong…(menunjuk ke beberapa huruf yang ada di bukunya)”. Setengah kaget, aku menanggapinya, “Eh, boleh. Nama kamu siapa?” “Ita”, jawabnya singkat. “Ok. Ita, aku contohin dulu ya cara nulisnya, abis itu Ita coba tulis ya..”,jelasku. Menurutku dia anak yang cerdas dan sangat bersemangat. Tanpa terasa sudah satu jam aku mengajarnya dan sudah tampak wajah lelah dari anak itu. Mencoba memastikan, aku bertanya, “Ita mau istirahat dulu sebentar? Kalau mau, kita bisa lanjut lagi nanti.” Tak ada jawaban yang keluar dari bibirnya, hanya gelengan kepala yang menjadi isyarat penolakkannya terhadap tawaranku. Aku pun melanjutkannya & tak bisa kupungkiri bahwa aku cukup kagum melihat semangat belajarnya yang luar biasa. Sesaat aku berpikir, Ita yang punya berbagai keterbatasan saja memiliki semangat yang luar biasa untuk belajar, sedangkan aku yang sudah memiliki begitu banyak fasilitas untuk belajar tapi justru tidak memiliki semangat sepertinya.
Matahari sudah mulai menenggelamkan dirinya di sebelah barat langit luas & menyisakan senja yang sempurna, sebagai tanda bahwa kegiatan mengajar kami juga harus berakhir. Tergambar raut kesedihan di wajah beberapa anak yang kami ajar, termasuk Ita. “Kakak minggu depan dateng kesini lagi kan? Ajarin aku lagi ya?”, tanya Ita padaku sebelum kami berpamitan pulang. Tak tega melihat wajahnya yang penuh harap, aku pun hanya bisa mengangguk sambil tersenyum.
Entah perasaan apa yang kurasakan saat ini. Seperti sebuah kesenangan, keharuan, kepuasan, atau… entahlah. Untuk pertama kalinya aku merasa sangat berguna bagi orang lain, berguna dalam arti konkret. Perasaan ini pula yang membuatku merasa sangat bersyukur akan semua nikmat yang telah aku dapatkan selama ini dan membuatku semakin menyayangi kedua orang tuaku. Perasaan ini terus berlangsung hingga beberapa hari setelahnya dan akhirnya kuputuskan untuk terus membantu dalam kegiatan bakti sosial ini.
Terima kasih Ita, hadirmu menyadarkanku…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar