Diamnya adalah neraka bagiku. Diamnya adalah kelumpuhan bagiku. Diamnya bukanlah emas. Diamnya juga sangat berarti apa-apa bagiku.
Ya.. setidaknya itulah yang ada di benakku saat ini. Aku bukannya tidak tahu akan arti kediamannya hanya saja kemalasanku untuk mengungkit masalah itu membuatku ikut bungkam.
Sebenarnya ada rasa sesak ketika sikapnya semakin berubah kepadaku hanya karena masalah yang menurutku seharusnya sudah selesai sejak lama. Entah karena kecewa atau amarahnya yang selalu menghalangi nuraninya untuk memaafkanku. Hanya satu hal yang pasti, sampai saat ini dia belum bisa memaafkanku dan tak tahu sampai kapan...
Rabbi...
Aku sungguh tak tahu apa yang harus kulakukan lagi...
Aku selalu berusaha untuk mencintainya dengan segenap keikhlasanku karena kecintaanku pada-Mu.
Tetapi... rasanya tetap getir, sangat getir.
Hampir di setiap malamku, ketika teringat akan kesakitan ini, tanpa mampu kubendung lagi maka mengalirlah butiran air mata yang mampu sedikit melukis perih ini. Lewat serpihan-serpihan doa yang kuharap mampu melunakkan hatinya untuk segera memaafkanku.
Mungkin... hanya itu yang mampu kulakukan saat ini..
Apakah harus menunggu sampai aku mati baru kemudian dia memaafkanku?
Sungguh, aku tidak ingin langkahku di akhirat kelak semakin berat karena dosa-dosaku yang belum termaafkan selama di dunia.
Ghafuur...
Aku sungguh berharap belas kasih-Mu..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar