Di suatu siang yang cukup terik di daerah Jakarta Timur, aku berada di dalam sebuah mobil angkutan umum yang biasa disebut dengan KWK. Aku baru pulang dari menghadiri acara pernikahan temanku. Belum lama mobil ini beranjak keluar dari terminal, ada seorang bapak yang berseragam biru (seperti seragam sebuah buruh pabrik) naik dan duduk di pojok belakang. Kemudian, kira-kira lima meter dari bapak yang pertama, naik dua orang pria yang kali ini usianya sepertinya lebih muda dibanding bapak yang pertama naik.
Pria yang pertama, berambut cepak hampir botak dan pria yang kedua berbadan agak besar dan membawa sesuatu, sepertinya selembar karton yang berbentuk persegi kemudian dibungkus plastik. Untuk memudahkan, sebut saja bapak yang seperti buruh pabrik sebagai bapak tua, pria yang berambut cepak sebagai pria botak, dan pria yang membawa karton sebagai pria karton. Posisi tempatku duduk adalah tepat di samping dekat pintu. Pria botak duduk di sebrangku, pria karton duduk di sampingku, dan bapak tua duduk di pojok belakang.
Tiba-tiba…
“Mba, uhuk..uhuk.., misi ya.. saya gak kuat bau asap rokok. Uuek..uuuek…”, kata pria botak dengan wajah cukup panik sambil menutup mulutnya seperti ingin muntah.
Suasana di dalam mobil semakin panik karena pria botak selalu menggeser-geser kakiku, seolah ingin muntah di dekat kakiku. Aneh.
Saat kondisi sudah semakin panik, aku merasakan tas kecil yang kuletakkan di pangkuanku mulai bergeser ke arah pria karton. Aku teringat akan cerita ibu bahwa beberapa hari yang lalu seorang sepupuku dicopet di dalam angkutan umum dengan modus rokok yang mengenai baju dan membuat seluruh penumpang panik dan saat itulah si copet beraksi.
Jantungku berdegup hebat. “Jangan-jangan ini…”
Entah aku mendapat keberanian dari mana. Setelah menyadari, aku tidak memilih turun saat itu juga bahkan aku seperti menanti aksi mereka selanjutnya. Dengan degup jantung yang semakin memburu, aku perlahan menarik tas kecil di pangkuanku untuk membenarkan posisinya dan kemudian, “sreeet…”
Tanganku bergesekkan dengan tangan pria karton di sampingku. Ternyata benar, mereka copet.
Aku mulai mengatur napasku yang cukup tersengal. Dengan berani, aku menatap ke arah pria karton yang duduk di sampingku. Aku menatapnya dengan tajam dari ujung rambut hingga ujung kakinya dan dia terlihat seperti salah tingkah. Aku mulai menyadari bahwa karton yang dia bawa itu mungkin hanya untuk menutupi aksi tangannnya untuk mencari-cari barang di dalam tas orang. Kemudian aku melakukan hal yang sama ke arah pria botak dan dia juga terlihat salah tingkah hingga seakan dia lupa bahwa tadi ingin muntah.
Saat menatap mereka berdua, yang ada di benakku adalah kekesalan. Saat itu aku sempat berpikir seandainya aku mengenakan sepatu skets, pasti aku akan dengan senang hati menginjak kaki mereka sekuat tenaga dan kalau pun mereka melawan mungkin aku masih ingat sedikit ilmu karate pernah kudapat sewaktu SMA. Akan tetapi, saat itu keadannya aku sedang mengenakan pakaian dan sandal yang sangat feminin jadi tidak memungkinkan. Oleh karena itu, aku hanya bisa melampiaskan kekesalanku dengan menatap tajam ke arah mereka dan mencoba memperlihatkan wajah tidak ramahku.
Tidak lama kemudian, pria botak dan pria karton turun di suatu tempat, setelah sebelumnya pria botak memberi kode lewat mata kepada pria karton. Setelah itu, sekitar lima meter kemudian, bapak tua turun. Saat ku amati, ketiganya berjalan mendekat satu sama lain. Ternyata bapak tua juga komplotan mereka. Hal itu membuatku mendengus kesal dan kemudian beristighfar.
“Ya Allah.. Muka bapak itu sama sekali tidak mencerminkan pencopet. Aku benar-benar tertipu. Padahal sudah cukup tua, kenapa tidak insaf?”, keluhku dalam hati.
Misi gagal. Aku dapat mengambil kesimpulan bahwa sepertinya para pencopet itu masih amatir, khususnya pria karton yang bertugas mengambil barang dari tasku. Seharusnya dia bisa bergerak lebih cepat dan tidak salah tingkah saat aku menatapnya, karena itu membuatnya semakin terlihat bersalah.
-Based on True Story-
Alhamdulillah gagal dicopet.
BalasHapusKalau saya agak kurang beruntung. Waktu itu modusnya berbeda. Salah satu dari mereka mengaku habis ditabrak [tertabrak] yang membikin salah satu kakinya sakit parah. Dgn mengguncang-guncangkan kakinya agar rasa sakit yg dialami kakinya tak begitu kentara, satu komplotan lain mencoba merogoh hape di celana saya. Goncangan kaki itu pengalih-perhatian pikiran saya. Dan Voila! Hape saya raib.
@ibnumarogi : wah, turut berduka y..
BalasHapusEmang banyak banget modusnya. Ada lagi tuh yang sok2 bawa binatang peliharaan kayak burung dll trus di angkot ditawar2 gitu buat dijual. Itu biasanya komplotannya lebih banyak.